Article

ANAK SAYA KUNING, APAKAH INI BERBAHAYA?

ANAK SAYA KUNING, APAKAH INI BERBAHAYA?

ANAK SAYA KUNING,

APAKAH INI BERBAHAYA?

Bayi Ayah dan Bunda kuning setelah lahir? Jangan disepelekan! Beberapa orang tua menganggap bahwa kuning pada bayi adalah hal wajar dan memilih untuk ‘menjemur’ anak dibawah sinar matahari tanpa konsultasi ke dokter. Apalagi jika kakak dari Si Kecil juga pernah mengalami hal yang sama. Tapi, Ayah dan Bunda perlu tau bahwa kuning pada Si Kecil bukanlah hal yang wajar. Hal terburuk yang bisa terjadi adalah gangguan perkembangan otak hingga kematian. Inilah beberapa hal penting seputar bayi kuning yang perlu Ayah dan Bunda ketahui!

APA PENYAKIT KUNING ITU?

Penyakit kuning atau dikenal sebagai jaundice adalah proses menguningnya kulit dan bagian putih di mata (sklera) pada bayi yang baru lahir. Hal ini disebabkan oleh peningkatan kadar pigmen kekuningan yang diproduksi oleh hati lalu tersebar dan meningkat pula kadarnya di dalam darah dan jaringan bilirubin. Beberapa dokter akan menyebutkan penyakit ini sebagai ‘hiperbilirubinemia’ karena kadar yang penting dinilai pada bayi adalah kadar bilirubin dalam darahnya.

Penyakit kuning umum terjadi pada bayi yang baru lahir. Sekitar 60% bayi cukup bulan (lebih dari 35 minggu kehamilan) dan 80% bayi prematur (dibawah 35 minggu) mengalami kuning pada minggu pertama setelah lahir.1 Pada kebanyakan kasus, penyakit kuning umumnya akan hilang dengan sendirinya. Namun, itu bisa menjadi tanda kondisi medis serius lainnya dan jika kadar bilirubin sangat tinggi dalam darah dapat menyebabkan komplikasi serius.

APA KONDISI YANG MENYEBABKAN KUNING PADA SI KECIL?2

Bayi dapat dilahirkan dengan berbagai kondisi medis yang dapat menyebabkan penyakit kuning. Pada kasus seperti ini, kadar bilirubin bisa jadi tinggi dan bayi mungkin memerlukan perawatan. Perlu dikhawatirkan oleh Ayah dan Bunda pula bila kuning pada Si Kecil muncul dalam 24 jam pertama kehidupan, hal ini bisa merupakan satu tanda serius dan merupakan kondisi tidak normal pada bayi.

Berikut beberapa penyakit yang mungkin menyebabkan kuning pada bayi.

  1. Memar dari proses melahirkan, terutama bila proses persalinan berlangsung menggunakan vakum;
  2. Berat lahir rendah;
  3. Ketidakcocokan jenis darah antara ibu dan bayi, biasanya ibu bergolongan darah O sedangkan anak bergolongan darah A/B, dan;
  4. Anemia hemolitik. Pada kondisi ini, sistem kekebalan bayi menyerang sel darah merahnya sendiri. Hal ini dapat terjadi karena gangguan autoimun, atau sebagai akibat dari kondisi medis lainnya seperti infeksi.
  5. Tingkat oksigen rendah dalam darah;
  6. Cystic fibrosis;
  7. Atresia bilier, yaitu kondisi di mana bayi dilahirkan tanpa saluran empedu, yang menyebabkan produksi empedu menumpuk dan merusak hati;
  8. Hepatitis neonatal, yang merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh berbagai virus termasuk hepatitis, rubella dan cytomegalovirus;
  9. Obat-obatan, dan;
  10. Sepsis, infeksi darah.

KOMPLIKASI, PROGNOSIS DAN PREVENSI3

Sebagian besar kasus penyakit kuning tidak menyebabkan masalah kesehatan bagi bayi, namun jika kadar bilirubin sangat tinggi, hal ini dapat menyebabkan kernikterus. Kondisi tingkat lanjut ini dapat menyebabkan retardasi mental, tuli dan kematian bayi.

Pada sebagian besar bayi, penyakit kuning sembuh tanpa pengobatan dan hanya perlu memastikan bahwa bayi mendapat asupan asi dengan baik. Untuk bayi yang memerlukan perawatan, fototerapi biasanya merupakan terapi yang sangat efektif. Bayi dengan kondisi medis mendasar yang serius yang menyebabkan penyakit kuning mungkin memerlukan perawatan yang lebih luas.

Tidak mungkin untuk mencegah semua kasus penyakit kuning. Namun, menyadari masalah dan dan segera berkonsultasi pada dokter atau bidan jika Anda khawatir bahwa bayi mungkin menderita penyakit kuning mungkin dapat membantu mencegah masalah. Untuk bayi dengan tanda penyakit kuning, pemantauan dan pengobatan dini dapat membantu menjaga kadar bilirubin dalam kisaran aman dan mencegah komplikasi serius. (TYA)

Penulis : Rizqy Rahmatyah

DAFTAR PUSTAKA

  1. Neonatal jaundice. National Institute for Health and Care Excellence. Diakses pada 21 Oktober 2018 dari https://www.nice.org.uk/guidance/cg98
  2. ULLAH, S., RAHMAN, K., & HEDAYATI, M. (2016). Hyperbilirubinemia in Neonates: Types, Causes, Clinical Examinations, Preventive Measures and Treatments: A Narrative Review Article. Iranian Journal of Public Health45(5), 558–568.
  3. Jaundince in Newborn Baby. Healthand. Diakses pada 21 Oktober 2018 dari https://healthand.com/au/topic/general-report/jaundice-in-newborn-babies

TOP