Asuhan Keperawatan Halusinasi

Definisi

Halusinasi adalah salah satu gejala  gangguan jiwa yang  khas  pada  skizofrenia beruapa  perubahan persepsi sensori, dimana pasien merasakan stimulus yang sebenarnya tidak ada.1

Pasien gangguan jiwa mengalami perubahan dalam hal orientasi realitas. Salah satu manifestasi yang muncul adalah halusinasi yang membuat pasien tidak dapat menjalankan pemenuhan dalam kehidupan sehari-hari.2

Rentang Respons Neurobiologi

Rentang respons neorobiologi yang paling adaptif adalah adanya pikiran logis dan terciptanya hubungan sosial yang harmonis. Rentang respons yang paling maladaptif adalah adanya waham, halusinasi, termasuk isolasi sosial menarik diri. Berikut adalah gambaran rentang respons neorobiologi.3

Intensitas Level Halusinasi

Level 1

Menyenangkan-kecemasan rendah. Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan.

Karakteristik: Kecemasan, kesepian, merasa bersalah, dan takut serta mencoba utnuk memusatkan pada penanganan pikiran untuk mengurangi ansietasnya. Individu memahami bahwa pikiran dan sensorinya itu dapat dikendalikan jika kecemasan dapat diatasi.

Perilaku yang teramati: Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa menimbulkan suara, gerakan mata yang cepat, respon verbal yang lamban, diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan.

Level 2

Menyenangkan-kecemasan rendah. Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan.

Karakteristik: Kecemasan, kesepian, merasa bersalah, dan takut serta mencoba untuk memusatkan pada penanganan pikiran untuk mengurangi ansietasnya.

Perilaku yang teramati: menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa menimbulkan suara, gerakan mata yang cepat, respon verbal yang lamban, diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan.

Level 3

Mengendalikan-kecemasan tingkat berat. Pengalaman sensori menjadi penguasa/ menguasai.

Karakteristik: Menyerah untuk melawan pengalaman halusinasi dan membiarkan halusinasi, dapat berupa permohonan:individu mungkin merasa kesepian jika pengalaman halusinasi itu hilang.

Perilaku yang teramati: mengikuti petunjuk dari halusinasi daripada menolaknya, kesulitan berhubungan dengan orang lain, rentang perhatian hanya dalam beberapa menit bahkan detik, gejala fisik kecemasan berat seperti keringat banyak, tremor, ketidakmampuan mengiktui petunjuk.

Level 4

Menaklukkan-kecemasan tingkat panik. Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan delusi.

Karakteristik: Pengalaman sensori mungkin menakutkan, jika individu tidak mengikuti perintah. Dapat terjadi beberapa jam atau hari jika tidak ditangani dengan baik.

Perilaku teramati ; perilaku menyerang, teror, panik, sangat potensial melakukan bunuh diri atau melukai orang lain, kegiatan fisik yang merefleksikan halusik/nasi seperti amuk, agresi, menarik diri, tidak mampu merespon petunjuk yang kompleks, tidak mampu berespon terhadap lebih dari 1 orang.4

Klasifikasi Halusinasi

Halusinasi pendengaran (auditif, akustik)

Dapat dijumpai berupa bunyi mendenging atau suara bising yang tidak mempunyai arti, tetapi lebih sering terdengar sebagai sebuah kata atau kalimat yang bermakna. Biasanya suara tersebut ditunjukan pada penderita bertengkar dan berdebat dengan suara-suara tersebut.

Halusinasi penglihatan (visual, optic)

Biasanya sering muncul bersamaan dengan penurunan kesadaran, menimbulkan rasa takut akibat gambaran-gambaran yang mengerikan.

Halusinasi penciuman (olfaktorik)

Halusinasi ini biasanya berupa mencium sesuatu bau tertentu dan dirasakan tidak enak, melambangkan rasa bersalah pada penderita. Bau dilambangkan sebagai pengalaman yang dianggap penderita sebagai suatu kombinasi moral.

Halusinasi pengecapan (gustatorik) Walaupun jarang terjadi, biasanya bersamaan dengan halusinasi penciuman. Penderita merasa mengecap sesuatu. Halusinasi gastorik lebih jarang dari halusinasi pengecapan gustatorik

Halusinasi perabaan (taktil) Merasa diraba, disentuh, ditiup atau seperti ada ulat yang bergerak dibawah kulit. Terutama pada keadaan delirium toksis dan skizofrenia.5

Asuhan Keperawatan

Faktor Predisposisi

  • Faktor perkembangan

Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal yang dapat meningkatkan stres dan ansietas.

  • Faktor sosial budaya

Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang merasa disingkirkan atau kesepian, selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi.

  • Faktor psikologis

Hubungan interpersonal yang tidak harmonis, serta peran ganda atau peran yang bertentangan dapat menimbulkan ansietas berat terakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan, sehingga terjadi halusinasi.

  • Faktor biologis

Struktur otak yang abnormal ditemukan pada pasien gangguan orientasi realitas.

  • Faktor genetic

Gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi umumnya ditemukan pada pasien skizofrenia. Skizofrenia ditemukan cukup tinggi pada keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami skizofrenia, serta akan lebih tinggi jika kedua orang tua skizofrenia.

Faktor Presipitasi

  • Stresor Sosial Budaya

Stres dan kecemasan akan meningkat bila terjadi penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang penting, atau diasingkan dari kelompok dapat menimbulkan halusinasi.

  • Faktor Biokimia

Berbagai penelitian tentang dopamin, norepinetrin, indolamin, serta zat halusigenik diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi.

  • Faktor Psikologis

Intensitas kecemasan yang ekstrem dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah memungkinkan berkembangnya gangguan orientasi realitas. Pasien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan.

  • Perilaku

Perilaku yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan orientasi realitas berkaitan dengan perubahan proses pikir, afektif persepsi, motorik, dan sosial.

Diagnosis Keperawatan

  1. Risiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi.
  2. Perubahan persepsi sensor: halusinasi berhubungan dengan menarik diri.

Intervensi Keperawatan

Tindakan Keperawatan Untuk Pasien

  • Membantu pasien mengenali halusinasi dengan cara berdiskusi dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang didengar/dilihat), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul, dan respons pasien saat halusinasi muncul.
  • Melatih pasien mengontrol halusinasi melalui : menghardik halusinasi, bercakap-cakap dengan orang lain, melakukan aktivitas yang terjadwal, menggunakan obat secara teratur

Tindakan Keperawatan Untuk Keluarga

  • Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
  • Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi, serta cara merawat pasien halusinasi.
  • Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien dengan halusinasi langsung di hadapan pasien.
  • Buat perencanaan pulang dengan keluarga.

Evaluasi

Evaluasi untuk pasien

  • Pasien mempercayai kepada perawat.
  • Pasien menyadari bahwa yang dialaminya tidak ada objeknya dan merupakan masalah yang harus diatasi.
  • Pasien dapat mengontrol halusinasi.

Evaluasi untuk keluarga

  • Keluarga mampu menjelaskan masalah halusinasi yang dialami oleh pasien.
  • Keluarga mampu menjelaskan cara merawat pasien di rumah.
  • Keluarga mampu memperagakan cara bersikap terhadap pasien.
  • Keluarga mampu menjelaskan fasilitas kesehatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah pasien.
  • Keluarga melaporkan keberhasilannnya merawat pasien.

Referensi

  1. Uhlhaas PJ, Mishara AL. Perceptual anomalies in schizophrenia: integrating phenomenology and cognitive neuroscience. Schizophrenia bulletin. 2006;33(1):142–56.
  2. Ahmad Yusuf RF dan HN. Mental Nursing Textbook. Jakarta: Salemba Medika; 2015.
  3. Ahmad Yusuf RF dan N. Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika; 2015.
  4. Stuart GW, Sundeen SJ. Buku saku keperawatan jiwa. Jakarta: EGC. 2007;
  5. Yosep I. Keperawatan Jiwa (edisi revisi). Bandung: Refika Aditama. 2009;

Baca artikel lainnya Resiko Perilaku Kekerasan

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest
WhatsApp

Recommendation Course for You

No Courses Found!